Nov 7, 2018

PENTINGNYA MENGENAL SILSILAH LELUHUR

KITA SEMUA AKAN MENJADI LELUHUR

Dalam 
kehidupan masyarakat Indonesia , khusunya  masyarakat Jawa masih sangat kental akan tradisi untuk selalu berbakti kepada Leluhur.  Leluhur  atau Nenek Moyang yang diluhurkan haruslah dihormati, menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk selalu berbakti kepada mereka
Leluhur kita di masa lalulah yang mengajarkan kepada kita masalah moral, budi pekerti, etika sopan santun, keyakinan, ajaran tatanan hidup yang diturunkan oleh Tuhan melalui Nenek Moyang (Agama) dan nenek Moyanglah yang menemukan nama Tuhan (Gusti, Pengeran, Shang Hyang Ghaib)  serta bagaimana cara berinteraksi, berkomunikasi, beribadah (ritual) sesuai dengan Bahasa, karakteristik budaya kearifan lokal (Local Wisdom). 




Sehingga  Leluhur  selalu wanti wanti (mengingatkan) kepada anak cucunya sebagai orang jawa dan siapapun yang hidup di tanah wingit, tanah angker   yaitu “Tanah Jawa” untuk selalu menjaga Ajaran Tatanan Hidup sebagai Orang Jawa dan selalu bersyukur  serta mengingat semua kebaikan Leluhur (
expressed heartfelt gratitude for his ancestry) dengan tidak meninggalkan tradisi, budaya melalui kegiatan spiritual yang sudah diajarkan oleh Nenek Moyang

Sebaliknya , Leluhur tanah Jawa juga mengingatkan bahayanya jika anak cucunya dan siapapun yang hidup di tanah jawa melupakan , meninggalkan kebiasaa, tradisi ajaran tatanan hidup yang diturunkan kepada Leluhur untuk anak cucunya dengan sabda leluhurnya yaitu   :

“Tanah Jowo Tanah Wingit, Jalo Moro Jalmo Mati”
Siapa yang tidak mengikuti Aturan Tatanan Leluhur bakalan menemukan malapetaka  (pati atau mati)


Jika tidak mati sandang pangannya, rumah tangganya, kebahagiaanya, usaha - kariernya, kehidupannya atau jodohnya.



Para leluhur yang sudah berpindah alam inilah yang akan menjaga keselamatan dan kemakmuran anak cucu dan keluarganya yang masih hidup  di bumi.

Arwah leluhur adalah teman yang kuat, sanggup mendatangkan keberuntungan, menjaga kesejahteraan, dan memberikan perlindungan.

PERACAYA  atau TIDAK Jika diabaikan atau leluhur  dibuat tersinggung maka leluhur akan mendatangkan malapetaka, kesialan,  yakni penyakit, kemiskinan, dan kesengsaraan.

Kita semua akan menjadi leluhur buat anak cucu kita, apa yang kita perbuat dan  kita lakukan akan menjadi sejarah bagi anak cucu kita. Jika  kita mengajarkan kepada anak cucu kita bagaimana menghargai, menanamkan ajaran luhur Leluhur kita, tidak mustahil jika kelak anak turun kita juga menghargai kita sebagai leluhurnya.

Sebaliknya, kitapun tidak akan pernah merasakan dihargai jika  kita sudah memberikan ketauladanan yang salah kepada anak cucu kita, bahwa seakan apa yang ajaran  leluhur kita adalah primitif, sesat, sirik dan sebagainya.

Berikut adalah istilah untuk urutan  keturunan (ke bawah) dan level leluhur (ke atas) dalam Bahasa Jawa :
Moyang ke-18. Mbah Trah Tumerah
Moyang ke-17. Mbah Menya-menya
Moyang ke-16. Mbah Menyaman
Moyang ke-15. Mbah Ampleng
Moyang ke-14. Mbah Cumpleng
Moyang ke-13. Mbah Giyeng
Moyang ke-12. Mbah Cendheng
Moyang ke-11. Mbah Gropak Waton
Moyang ke-10. Mbah Galih Asem
Moyang ke-9.  Mbah Debog Bosok
Moyang ke-8.  Mbah Gropak Senthe
Moyang ke-7.  Mbah Gantung Siwur
Moyang ke-6.  Mbah Udheg-udheg
Moyang ke-5.  Mbah Wareng
Moyang ke-4.  Mbah Canggah
Moyang ke-3.  Mbah Buyut
Moyang ke-2.  Mbah (bahasa Indonesia = Eyang)
Moyang ke-1.  Bapak / Simbok


 ==== > KITA <====

Keturunan ke-1.   Anak
Keturunan ke-2.   Putu 
(bahasa Indonesia = cucu)
Keturunan ke-3.   Buyut (
bahasa Indonesia = cicit)
Keturunan ke-4.   Canggah
Keturunan ke-5.   Wareng
Keturunan ke-6.   Udheg-Udheg
Keturunan ke-7.   Gantung Siwur
Keturunan ke-8.   Gropak Senthe
Keturunan ke-9.   Debog Bosok
Keturunan ke-10. Galih Asem
Keturunan ke-11. Gropak waton
Keturunan ke-12. Cendheng
Keturunan ke-13. Giyeng
Keturunan ke-14. Cumpleng
Keturunan ke-15. Ampleng
Keturunan ke-16. Menyaman
Keturunan ke-17. Menya-menya
Keturunan ke-18. Trah tumerah.

Luar biasa bukan nama-nama tingkatan keluarga jawa tersebut.

Semoga artikel ini bisa menumbuhkan lagi semangat untuk mempertahankan dan melestarikan ( Nguri-nguri) "Ajaran Tatanan Hidup" leluhur yang  semakin punah seiring dengan degradasi moral anak bangsa kita akibat serbuan budaya asing dan kemajuan teknologi.



Baca  juga  :